Ketagihan Ngopi? Saya Pernah

Ketagihan Ngopi di Warung, Saya Pernah

Wabah virus Corona telah merasuk bukan hanya di kota, tetapi di desa-desa. Sejumlah orang positif Corona bahkan meninggal. Di kampung halaman saya di Karanganyar, Solo sudah ada pasien positif Corona yang meninggal. Sekarang, suasananya berubah. Sejumlah akses jalan menuju kampung saya dipagari. Bukan hanya demi fisikal distancing, tapi juga adanya isu maling yang kabarnya semakin meresahkan.

 

Namun, saat pemerintah dan petugas menggalakkan fisikan distancing, sejumlah warung kopi masih tetap membuka lapak dan membiarkan pengunjung nongkrong-nongkrong.

 

Kota Surabaya adalah salah satu kota yang dipadati ribuan warkop (warung kopi). Sebelum Corona merebak, semua warkop selalu penuh pengunjung. Namun kini, sebagian besar sudah tutup. Tetapi ada juga yang nekat buka, karena pengunjung nekat ngopi juga di situ. Supply dan demand seimbang.

 

Hasilnya, saat petugas dari Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Virus COVID-19 Provinsi Jawa Timur melakukan razia dan rapid test, terdapat dua orang yang positif Corona di dua tempat warung kopi. Lalu, yang lain berhamburan dan jadi shock therapy agar mengurangi aktifitas nongkrong di warkop.

 

Lalu, mengapa mereka bandel dan tetap ngopi saat pemerintah menganjurkan #dirumahsaja?

 

Ketagihan. Itu jawabnya.

 

Orang yang sudah punya aktifitas ngopi di warung secara rutin biasanya ketagihan. Padahal, di warkop ya hanya minum kopi, main HP, numpang wifi. Apalagi sejak gadget menjadi teman semua orang, aktifitas di warung kopi tak lebih dari sekedar aktifitas individual saja.

 

Beda dengan dulu saat “obrolan warung kopi” masih jadi sesuatu yang menarik.

 

Sekarang, ngopi di warkop sambil main HP adalah kenikmatan.

 

Nah, soal ketagihan itu, rupanya sangat sulit untuk dihentikan.

 

Saya pernah mengalami ketagihan aktifitas ngopi seperti itu. Dua kali. Pertama saat saya tinggal di Bandung.  Tepatnya di Jl. Peta 249 Bandung. Tahun 1996-1997. Saya bekerja di situ dan tinggal di mess perusahaan itu. Perusahaan perakitan komputer, pabrik sosis dan perusahaan mebel berbahan batu onyx,

 

Setiap malam, kami yang tinggal di mess selalu menyempatkan diri keluar untuk cari makan atau sekedar nongkrong di warung yang tak jauh dari situ. Setiap malam.

 

Hal itu jadi kebiasaan dan membuat ketagihan. Padahal ya hanya makan, minum, ngobrol biasa saja.

 

Parahnya, kalau saya sempat ketiduran dari sore lalu terbangun di tengah malam, dan saya belum sempat nongkrong di luar, seperti ada penyesalan yang mendalam.

 

Ada kalanya saya nekat keluar mess hanya untuk cari udara segar, atau membeli teh botol di warung lalu balik lagi ke mess.

 

Padahal, untuk mencapai luar pintu gerbang itu saya haru melewati sejumlah pintu. Belum lagi kalau sudah malam, anjing penjaga sudah dilepas ke halaman. Perlu ekstra hati-hati agar anjing tidak menyalak, atau mengendus.

 

Nah, kalau sudah sempat keluar mess, rasanya sudah plong. Selama berbulan-bulan saya tinggal di situ, selalu begitu.

 

Lalu, ketika saya pindah tinggal di Pati, Jawa Tengah. Hal yang sama terulang.

 

Saat itu saya bekerja sebagai sales lapangan. Dari mulai sales Telkomsel, sales Sampoerna Telekom, marketing Radio PAS FM, sales Garudafood hingga sales produk saya sendiri, saya mengalami ketagihan seperti di Bandung.

 

Bedanya, ketagihan waktu di Pati itu ketagihan minum teh panas di angkringan.

 

Saya tidak pernah melewatkan untuk mampir angkringan hanya untuk minum teh panas. Kebetulan, teh yang disajikan itu rasanya khas, seperti teh yang saya minum sejak kecil di kampung halaman.

 

Angkringan, biasanya datang dari sekitar Solo. Atau didominasi oleh perantau dari Klaten, Jawa Tengah. Mereka menjual minuman teh panas menggunakan teh khas buatan Solo. Seperti teh Tjap Njapoe atau Teh Kepala Djenggot. Dua merek ini produksi Solo dan rasa sepetnya khas. Ini yang bikin saya ketagihan. Teh Kepala Djenggot ini selalu ada di rumah saya di Solo, sampai hari ini.

 

Setiap hari, sebelum pulang ke rumah, saya pasti mampir dulu. Padahal, di rumah saya juga bisa bikin teh seperti itu. Tapi entah kenapa, saya menikmati sekali mampir di angkringan hanya untuk ngeteh.

 

Sekarang, ngeteh bagi saya adalah ritual sore hari. Beberapa tahun terakhir ini, ngeteh di sore hari menjadi rutinitas saya. Ada rasa lega, lepas dan plong kalau sore sebelum maghrib minum teh hangat.

 

Jadi, kalau ada orang yang nekat nongkrong di warung saat PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) berlaku, saya tidak heran. Bisa jadi mereka adalah kaum-kaum ketagihan ngopi di warkop yang sulit disembuhkan. 🙂

(gambar aslinya dari suara.com, diedit)

1 thought on “Ketagihan Ngopi? Saya Pernah”

Leave a Comment