Ketua Umum MTA Ustad Ahmad Sukina Meninggal

Innalillahi wainna ilaihi rajiuun.

Pagi ini kami mendengar kabar bahwa Ketua Umum Majelis Tafsir Al Qur’an (MTA) Ustad Ds. Ahmad Sukina meninggal. Dalam informasi yang kami terima, beliau wafat pukul 04.05, Kamis 25 Februari 2021.

Informasi Ustad Ahmad Sukina meninggal ini tentu saja mengagetkan. Saya lalu mencari informasi validnya untuk mengkonfirmasi berita wafatnya pengasuh MTA tersebut.

Ustad Ahmad Sukina adalah Ketua Umum Yayasan Majelis Tafsir Al Qur’an.

Yayasan Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) adalah sebuah lembaga pendidikan dan dakwah Islamiyah yang berpusat di Surakarta. MTA didirikan oleh Alm. Ust. Abdullah Thufail Saputra di Surakarta pada tangal 19 September 1972 dengan tujuan untuk mengajak umat Islam kembali ke Al-Qur’an. Sesuai dengan nama dan tujuannya, pengkajian Al-Qur’an dengan tekanan pada pemahaman, penghayatan dan pengamalan Al-Qur’an menjadi kegiatan utama MTA

Layaknya seorang pedagang , Al-Ustadz Abdullah Thufail Saputra pernah berkeliling ke berbagai wilayah Indonesia sampai ke pelosok-pelosok tanah air kala itu. Saat melakukan perjalanannya, dia melihat bahwa amalan ummat Islam dimana-mana jauh dari tuntunan Islam.

Ia melihat, mereka hanya mengikuti amalan-amalan dari nenek moyang mereka. Hal inilah yang menyebabkan mereka tidak bisa bersatu. Dia telah menempuh berbagai cara untuk menyatukan kelompok-kelompok Islam namun tidak mendapat tanggapan yang positif dari para tokoh di kalangan ummat Islam.

Akhirnya Al-Ustadz Abdullah Thufail Saputra memutuskan untuk mendirikan lembaga dakwah yang bertujuan mengajak ummat Islam kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang kemudian diberi nama Yayasan Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) di Surakarta.

Pendiri MTA itu wafat pada tanggal 15 September 1992, setelah 20 tahun menumbuhkan dan mengembangkan MTA. Selanjutnya kepemimpinan diteruskan oleh murid dia Ust. Drs. Ahmad Sukina.

MTA kemudian berkembang dengan pesat ke seluruh pelosok tanah air dan saat ini telah memiliki lebih dari 50 perwakilan dan lebih dari 170 cabang. MTA berkembang dari bawah, yakni atas permintaan warga masyarakat untuk mengadakan pengajian rutin, lalu setelah mekar dan merasa mantap akan kebenaran ajaran yang dikaji mereka mengajukan permohonan untuk menjadi bagian dari keluarga besar MTA.

Permohonan pembukaan cabang baru dikabulkan kalau para siswa setempat telah dinilai oleh Pimpinan Pusat membuktikan kesungguhan mereka dalam mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam kehidupan sehari-hari ada ujiannya.

Terlepas dari kontroversi tentang ilmu yang diajarkan di MTA, bagi saya pribadi, saya mengaku berterima kasih pada MTA.

Pasalnya, keluarga saya (Ayah, Ibu, Adik) banyak belajar tentang ilmu agama di MTA. Bahkan mereka menjadi peserta (kalau tidak disebut santri) pengajian yang cukup aktif.

Di kampung saya, di Solo, Jawa Tengah, kegiatan MTA juga cukup aktif. Bahkan, kampus MTA yang megah itu juga dibangun tak jauh dari rumah saya.

Bagi saya, berita Ustad Ahmad Sukina pengasuh MTA meninggal ini cukup mengagetkan.

Tentu saja kami berduka.

Selamat jalan, Ustad. Semoga husnul khotimah.

Leave a Comment